Endurance

Malam ini sudah memasuki hari ketiga di bulan Ramadhan. Anak-anak masih semangat berlarian menuju masjid. Ikut sholat Isya, lanjut tarawih. Waktu bermain mereka bertambah seiring adanya even tahunan rutin di tiap masjid. Mereka bisa bercengkrama lebih lama dengan anak-anak lain yang mungkin tetangga dekat. Bercanda ria sambil main kucing-kucingan dengan petugas masjid yang rajin menegur mereka ketika ribut di dalam masjid. Pulangnya anak-anak itu masih masih memiliki semangat yang sama. Dengan peci yang sudah tak tahu lagi rimbanya karena terselip di antara saku celana, dengan sarung terikat dileher dibentuk rompi ala tim swat korban film superhero. Esok akan lebih seru, lebih mengasyikkan, pikir mereka. Karena mereka akan bertemu kawan sebayanya. Bercanda ria. Kadang sampai lupa diri bermain petasan banting yang ternyata masih dijual di pasaran.
Langit di Bulan Ramadhan masih bersahabat. Hujan masih belum turun. Malam ini, bintang masih bertaburan menghiasi gelapnya malam. Menjadi saksi para jamaah yang begitu semangat pergi menuju masjid. Setiap langkah menuju masjid, setiap kerlipan pula cahaya bintang itu berpendar merespon aktivitas mulia yang insyaAllah tercatat berkali-kali lipat pahalanya. Langit diam saja. Menikmati taburan cahaya, sambil memastikan bahwa tak ada air yang turun malam ini.
Aku duduk di salah satu sudut masjid. Mendengarkan ceramah yang penuh canda namun tersirat makna. Ramadhan ini adalah sebuah fenomena. Fenomena yang mengubah suasana islami di setiap sudut kota. Fenomena yang mengubah susunan shaf di masjid menumpuk penuh sampai ke teras luar. Fenomena yang menghadirkan banyak majelis ilmu di setiap waktu.
Penceramah membawakan materi dengan semangat, jamaah merespon dengan antusias, sesekali disambut riuh tawa karena candaan yang sifatnya membangun bukan mencari kompor gas atau suasana pecah dengan tawa dan riuh tepuk tangan. Ini majelis ilmu, bukan panggung stand up komedian.
Alur ceramah mulai tak lagi masuk telinga. Pikiranku mengembara. Mataku tertuju pada jamaah yang mengenakan kaos bola Leicester City, dengan nomor punggung 9 bertuliskan nama Vardy. Si Vardy memang tidak disebut sama sekali oleh penceramah. Tapi entah bagaimana caranya dia bisa mengelilingi isi kepala yang sedari tadi berusaha mencerna maksud dari isi ceramah ustadz yang berjanggut panjang, dengan peci hitam, bergamis putih dengan sorban kotak hitam melilit di lehernya. Dan sudah hampir 5 menit dia berdiri di depan, tapi aku tak lagi fokus padanya.
Aku teringat pernah baca sejarah singkat si Vardy yang kini memenuhi isi kepala. Sebelum dia membawa klubnya juara Liga Inggris, dia bermain di klub amatir di tanah Britania. Sambil bermain sepakbola, ia menjadi buruh pabrik di siang hari. Sampai pada akhirnya klub yang saat ini dibawanya menjuarai Liga Inggris, membelinya ketika masih bermain di divisi dua. Butuh waktu selama tiga tahun hingga seorang Vardy bisa membantu tim nya juara. Vardy memiliki daya tahan yang tinggi. Endurance nya cukup stabil hingga ia bisa menularkan pengaruhnya kepada rekan setim yang membantunya meraih gelar pertama liga paling bergengsi di seantero Inggris. 
Vardy akhirnya dipanggil untuk membela timnas Inggris untuk berlaga di Euro 2016. Karirnya perlahan meningkat, endurance nya membuahkan hasil meski di usia senja bagi ukuran pesepak bola (29 tahun). Ketika Vardy mampu mempertahankan endurance seperti apa yang ditunjukkannya pada pelatih gaek asal Italia, Ranierri. Bukan hal mustahil Inggris bisa meraih trofi Euro yang belum pernah sekalipun mereka raih.
* * *
Endurance adalah nilai positif yang mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Nabi dan Rasul memiliki tingkat endurance yang berbeda dalam berdakwah. Untuk yang terlama hingga mendapat julukan Bapak Dakwah adalah Nabi Nuh as. Dengan endurance yang cukup lama, nampaknya Allah belum memperkenankan Nabi Nuh as memiliki pengikut yang banyak sesuai dengan waktu yang dihabiskannya. Karena bicara soal endurance (daya tahan) ini bukan hanya berbicara soal waktu. Kita sedang berbicara soal kesabaran dan kesempatan.
Ramadhan adalah bulan dimana endurance kita sebagai orang beriman diuji. Semua mendapatkan keadilan waktu. Mereka mendapatkan waktu yang sama. Namun tidak semua memiliki dua hal tadi secara bersamaan. Ada yang memiliki tingkat kesabaran yang baik, namun belum diberikan kesempatan yang maksimal untuk beribadah. Ada yang diberikan kesempatan yang lapang, namun tidak diberikan kesabaran yang cukup untuk menggunakan kesempatan tersebut. Nabi Nuh as diberikan kesabaran yang cukup, namun ternyata selama waktu hidupnya, belum diberikan kesempatan yang cukup oleh Allah sampai air yang akhirnya mengenggelamkan kesempatan tersebut.
* * *
Pekan pertama di bulan Ramadhan tingkat endurance masyarakat untuk sholat berjamaah di masjid masih stabil. Menjelang minggu kedua, tingkat endurance masyarakat mulai goyang. Barisan shaf mulai longgar. Pekan ketiga tingkat endurance makin kendur. Ujian makin berat karena godaan diskon di setiap pusat perbelanjaan. Belum lagi even buka bersama yang makin ramai di sosial media. Hingga di pekan terakhir Ramadhan, tingkat endurance masyarakat hanya menyisakan beberapa orang saja. Ada yang sudah persiapan mudik ke kampung halamannya. Tapi ada juga yang tetap stabil, bahkan makin baik daya tahannya karena ditunjang dengan itikaf dan amal-amal yang konsisten dijalankan selama hidupnya.
Wajar apabila syurga itu mahal harganya. Lebih mahal dari trofi Liga Inggris atau Euro yang diperebutkan Vardy dan rekan setim nya. Lebih berkilau nilainya. Lebih istimewa dibandingkan dengan seisi dunia. Karena memang untuk menggapainya butuh daya tahan (endurance) yang lebih menguras tenaga. Berpeluh keringat. Menguras air mata, harta. Bahkan tidak jarang sampai harus mengorbankan darah dan nyawa untuk mempertahankan daya tahan keimanan sebagai seorang mukmin sejati.
* * * 
Aku terbangun. Rupanya bilal sudah bersahutan menyeru untuk sholat witir. Aku belajar arti daya tahan dalam mimpi. Aku juga harus menjaga daya tahan mataku yang sudah beberapa watt ini untuk melanjutkan tiga rakaat yang menjadi penutup rangkaian ibadahku di masjid ini. Ya Allah kuatkan daya tahanku sampai akhir Ramadhan.

Palembang 3 Ramadhan 1437 H

Inspirasi Itu Seperti Apa



 Bulan Maret ini memasuki penghujung waktu.Tulisan di blog ini masih sepi belum bertambah sejak postingan terbaru Februari lalu. Padahal banyak kejadian yang bisa menjadi referensi sebuah tulisan. Mulai dari event Islamic Book Fair, Gerhana Matahari Total, dan itu belum ditambah dengan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia sosial media tentang gosip atau fakta yang dikemas sedemikian rupa oleh manusia-manusia produktif yang jarinya tak pernah bisa jauh dari gadget kebanggaannya.

Jadilah Maret ini bulan yang hampa tanpa ukiran kata. Yang biasanya bisa menghiasi hari dengan segala keluasan maknanya, Namun Maret tahun ini ukiran itu lenyap, senyap tanpa sisa. Untungnya saja aku bukan wartawan yang dituntut oleh pekerjaan dalam menghasilkan sebuah tulisan. Pastinya tulisan yang benilai jual tinggi bagi pembaca. Supaya tulisan itu menjadi headline utama. Konsumsi pasar nomor wahid. Apalagi kalau temanya bikin penguasa makin jaya menancapkan kuku dimana-mana. Peduli apa soal idealis, realita, fakta di lapangan. Hal-hal itu sudah lama mati dalam kaidah penulisan berita yang dimuat di media. Habis sudah kesempatan anak cucu kita mencari inspirasi dari media. Karena di sana hanya kumpulan citra, kumpulan doktrin yang disematkan perlahan untuk mengubah mental manusia nya menjadi apatis pada negara dan kehidupan masyarakat yang ada.

     Maret dua tahun lalu media saling bunuh. Menonjolkan tokoh inspiratornya masing-masing untuk dinaikkan tahta menjadi pimpinan puncak sebuah negara. Tahun berikutnya tokoh yang berhasil dinaikkan menjadi pemegang tahta saat ini digoyang evaluasi kinerja. Namun selalu ada media yang memback up dengan berita penuh citra dan menarik untuk dikonsumsi pembaca. Hingga saat ini, media masih saja sibuk beretorika menaikkan citra tokoh yang dianggapnya menginspirasi untuk menata ulang ibukota di periode kedua kepemimpinannya.

     Inspirasi itu seperti apa kawan? Aku sudah lama tak mendengar ada berita heroik dari pejabat kita yang menjadi inspirator bagi rakyatnya di media. Kalaupun ada, aku menjadi ragu, apakah berita itu rekayasa atau memang benar adanya. Harusnya banyak anak muda yang kemudian terinspirasi oleh para pejabatnya yang terkenal santun dan sigap dalam melayani rakyatnya. Hingga menyebabkan kecintaan rakyat kepada daerahnya, negerinya sendiri. Bandung sudah selangkah lebih maju dalam menampilkan sosok inspirator dari kalangan pejabat. Depok juga demikian. Padang, berikut Sumatera Barat juga sudah punya sosok inspirator dalam daerah yang masih menjadi pejabat. Belum ditambah Bogor, Surabaya, dan masih banyak lagi daerah yang memiliki sosok insprator untuk masyarakat di kalangan pejabat. Namun sayangnya belum terekspos luas secara terang benderang di media nasional. Hanya seputar wilayah media lokal yang mungkin hanya dinikmati beberapa gelintir masyarakat sekitar.

     Kebaikan itu butuh disebarluaskan. Karena itu bisa menjadi sebuah inspirasi yang bisa diwariskan untuk generasi mendatang. Kebaikan butuh dituliskan, ditunjukkan langkah-langkahnya, diberitahukan efek positifnya. Agar kebaikan itu abadi dan menjadi sumber inspirasi bagi para pembacanya.

      Itulah salah satu alasan logis yang bisa saya dapatkan dari penulisan Alquran. Yang membacanya bernilai kebaikan. Yang mendengarnya mendapatkan keberkahan. Yang mengajarkannya mendapatkan nilai kebaikan yang terus mengalir selama ilmunya bermanfaat untuk diajarkan ulang kepada generasi selanjutnya. Yang kemudian menjadi sumber inspirasi banyak orang. Karena berisi kebaikan yang tak pernah lekang oleh zaman.

       Seperti Rasul yang mencari inspirasi atas kisah perjuangan nabi pendahulunya. Membuatnya belajar lebih sabar dalam menghadapi kaumnya yang belum mengerti. Menjadikannya paham berbagai metode dari para nabi dalam menyebarkan risalah suci. Menguatkan dirinya saat satu demi satu keluarga yang dicintainya pergi meninggalkannya.

     Maka adakah inspirasi yang lebih baik dari kebaikan yang tertulis secara benar dan terjaga sampai hari kiamat itu?

Lalu di akhir Maret, di senja hari, aku berhenti merutuki media yang tak lagi menampilkan sosok inspirator untuk diri sendiri. Aku bosan mencari inspirasi buatan manusia yang penuh kepentingan. Karena kini aku tahu, inspirasi itu seperti apa. 

Cinta itu Katalis Perasaan


Dua orang yang saling mencintai itu bertemu untuk sekali lagi. Dalam sebuah gedung kantoran di bilangan Jakarta. Milea, nama gadis itu, bertemu muka tidak sengaja dengan bekas kekasih hatinya, Dilan. Mereka bertemu dalam suasana yang berbeda. Pada tempat berbeda. Dan tidak menyandang status yang mereka banggakan dulu ketika SMA. Sepasang kekasih. Tatapan mata mereka masih menyiratkan rasa ketertarikan dan kekaguman satu sama lain. Mereka terdiam sejenak, beradu pandang. Hingga akhirnya suami dari Milea datang, dan memutuskan beberapa detik waktu yang digunakan oleh mereka berdua mengingat masa romantis ketika SMA.
Adegan dalam novel yang berjudul Dilan ini bercerita soal cinta itu merupakan potret  gambaran cinta konvensional yang kini terjadi di masyarakat. Kisah kasih yang terjadi di masa SMA. Pergaulan yang terlihat lumrah, dipopulerkan secara terang-terangan. Digambarkan begitu menarik. Padahal banyak jerat setan yang menanti di sana. Banyak kekecewaan dalam pelaksanaannya. Karena pada akhirnya cinta yang dilukiskan begitu panjang  dan mendayu oleh Pidi Baiq, penulisnya, hanya menyisakan kata perpisahan karena berbenturan dengan realita yang tak bisa disatukan meski atas nama cinta. Entah siapa yang dirugikan di sana. Terbawa perasaan. Patah hati. Menurutmu itu bisa sembuh sehari? Dua hari? Belum dosa hati, dosa mata, dan yang lainnya. Oke ini hanya fiksi. Di dunia realita, bukannya ada juga seperti ini?
Cinta yang hanya menggebu di awal, tanpa alasan yang jelas akan berakhir tanpa kejelasan pula. Jadi tak usah lah kamu percaya dengan ucapan gombal yang menjelaskan bahwa cinta itu tanpa alasan. Itu semua trik pasaran yang sudah banyak dipakai oleh para pemuja cinta semu belaka. Semanis apapun alasannya sebaik apapun caranya menjelaskan soal cinta, kalau bukan Allah yang menjadi sandaran, maka cinta itu hanya sebuah cerita semu penghias dosa.
* * *
Lain Pidi Baiq, lain pula Kang Abik. Novelis yang mempunyai nama asli Habiburrahman El Shirazy ini juga merupakan seorang penulis novel yang menjadikan cinta sebagai bumbu utama. Mulai dari Ayat-ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Ketika Cinta bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta dan sederet karyanya lain pun sarat akan kisah cinta. Cinta memang menjadi sebuah produk jualan yang begitu laris di pasaran. Dan para penulis cerdas tahu bagaimana memanfaatkan itu.
Kang Abik dengan kisah cinta nya memiliki nilai-nilai yang jauh lebih luhur daripada apa yang sudah dibawakan oleh novelis lain semisal Pidi Baiq. Sama-sama bergenre cinta, namun dalam bingkai yang berbeda. Novel karya kang Abik sarat nilai rabbani. Berpegang teguh dengan prinsip islami, tanpa melanggar norma-norma yang terkesan menjual diri demi sebuah kata sifat yang kita sebut cinta.
Karena memang seperti itulah cinta, ia hanyalah sebuah kata sifat yang setara dengan kata sifat yang lain. Setara dengan sabar, jujur, baik, jahat, dan sebagainya. Bukan hanya kata sifat yang baik saja. Karena memang cinta itu tidak selamanya berada dalam lingkaran kebaikan. Terkadang kamu bisa menemukan bahwa cinta itu menguatkan, tapi di sisi lain kamu bisa mendapatkan bahwa cinta bisa menjerumuskan.
Salah satu efek dari cinta yang menguatkan bisa kamu baca di novel Ayat-ayat cinta karya kang Abik yang kedua. Kamu bisa merasakan bagaimana cinta itu bisa meneguhkan keimanan seorang Aisyah yang rela merusak paras cantiknya untuk menghindari tindakan pelecehan yang akan dilakukan oleh tentara Israel ketika di penjara. Dinding penjara menjadi media untuk menyayat pipi, hidung, kening, dan seluruh bagian wajah Aisyah. Darah mengucur di setiap sudut wajah. Perih rasanya. Namun tidak sebanding dengan perihnya siksaan neraka Allah jika ia tunduk pasrah menyerahkan dirinya kepada para budak syahwat dunia. Diikhlaskan pemberian Allah berupa wajah yang begitu dicintai suaminya untuk menjaga kesucian diri dari nafsu bejat musuh Allah terlaknat. Biarlah raga itu rusak di dunia, toh Aisyah selalu percaya bahwa usahanya menjaga kesucian diri akan mendapatkan surga dari Allah subhanahu wa ta’ala.  Cinta itu membuatmu kuat. Kuat iman, berimplikasi pada keikhlasan untuk mengorbankan semua yang kamu miliki, hingga bertambah kecintaanmu kepada yang memberikan cinta. Dialah Allah sang Pemilik Cinta.
* * *
Sepertinya sudah cukup kita membahas soal cinta di dunia fiksi. Kisah cinta di dunia ini cukup banyak juga yang melegenda. Dan itu semua selalu memiliki dua sisi antara kebaikan dan keburukan. Kamu tahu, bangunan Taj Mahal yang menjadi ikon negara India dan menjadi salah satu keajaiban dunia. Itu juga merupakan hasil dari cerita cinta. Tak usah jauh-jauh, di negara kita, Indonesia, candi Prambanan juga merupakan salah satu bangunan yang memiliki cerita legenda seputar cinta. Juga di tangkuban perahu, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Cinta itu katalis perasaan. Ia mampu mempercepat reaksi antara perasaan satu dengan yang lain. Ia mampu menghadirkan sedih, bahagia, kesal dan rindu melebur padu. Katalis perasaan pasti butuh energi. Energi sebuah cinta hanya bisa didapatkan dari kumpulan kebaikan-kebaikan yang bersinergi. Jadi jangan heran ketika cinta mulai memainkan perannya sebagai katalis, energi-energi positif mulai bergerak memainkan perannya masing-masing.
Misalnya saja seperti ini. Untuk mencintai sesuatu, maka kamu harus jujur pada diri sendiri, maka cinta sudah menyebabkan seseorang menjadi jujur. Lalu untuk mencapai sebuah kebahagiaan, cinta tidak cukup hanya dengan jujur. Karena cinta akan mengambil seluruh waktumu. Menyita semua pikiranmu, menyedot habis semua hartamu. Dan semua itu harus ikhlas kamu korbankan. Tidak berhenti sampai di situ kawan, ketika kamu sudah memutuskan untuk mencintai, telah jujur pada diri sendiri, ikhlas mengorbankan apa yang dimiliki, cinta terkadang berjalan tidak sesuai dengan kehendak hati dan keinginan, dan untuk menjaga cinta itu tetap utuh diperlukan kesabaran. Masih banyak lagi energi-energi positif  yang akan tersebar untuk mereaksikan sebuah perasaan berkaitan dengan cinta. Jadi coba saja diperiksa, jika kawanmu sudah terlalu banyak terbawa perasaan, bisa jadi katalis yang kita kenal dengan sebutan cinta sedang bekerja dalam dirinya.
Cinta itu sering bermula dari mata. Karena mata merupakan media yang Allah ciptakan untuk merasakan keindahan secara visual. Keindahan secara visual bisa lebih mudah tergambar, karena sifatnya nampak dan nyata. Seindah memandang ciptaan Allah yang luar biasa. Karena Allah tak mampu untuk kita lihat dengan mata di dunia, maka untuk menghadirkan cinta kepada Nya bisa dengan melihat segala ciptaan Nya. Karenanya Allah sudah berfirman “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Mata juga bisa menipu, mata inilah yang kemudian menjerumuskan Abdah bin ‘Abdurrahiim dari seorang prajurit yang hafal Quran yang kemudian merelakan keimanannya karena tergiur kecantikan wanita ketika masa penaklukan benteng Romawi sekitar tahun 270 H.  
Lalu cinta juga bisa bermula dari telinga. Telinga bisa merasakan keindahan secara audio. Secara pendengaran. Seorang musisi bisa dicintai para penggemarnya tanpa perlu bertatap muka. Suara yang indah bisa menenteramkan hati. Dan hati yang tenteram  bisa menghadirkan cinta. Suara tadarus Alquran yang diperdengarkan seorang manusia bisa juga menjadi penyebab cinta.
Dan lagi-lagi pendengaran ini juga terkadang bisa menipu. Kita sebagai manusia harus bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah. Karena setan selalu membisikkan kejahatan langsung ke sanubari manusia.
Baik media visual maupun media pendengaran, adalah salah satu media terbaik yang bisa menghadirkan rasa cinta. Namun ternyata ada sebuah cinta yang tidak melalui dua media tersebut. Dan cinta itu memiliki efek luar biasa terhadap objek yang dicintainya. Pengaruhnya luas, meliputi semesta alam. Hebatnya lagi, cinta ini terjalin begitu saja tanpa pernah bertemu rupa, cinta ini mengalir saja, tanpa pernah mendengar suara. Terlalu kuat jalinannya. Terlalu deras alirannya. Membanjiri semesta dengan cinta, menyebarkan kebaikan-kebaikan yang selalu menghadirkan cinta yang bertambah di manapun dan kapan pun. Dia lah pencinta sejati dari kalangan manusia. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Yang mengorbankan seluruh waktu, harta, jiwa dan raganya untuk kita yang belum pernah ditemuinya. Yang beruban rambutnya memikirkan nasib kita setelah sepeninggalnya. Yang merelakan waktu tidur di sepertiga malamnya demi mendoakan kita agar selalu istiqomah berada di jalan yang sama dengannya.
Adakah cinta yang lebih mulia dari itu? Bahkan kita yang mengaku mengerti soal cinta belum berani mengorbankan segalanya untuk yang kita cinta tapi belum pernah bertemu muka maupun suara. Karena cinta adalah soal keikhlasan, maka Rasul ikhlas mencintai kita sebagai umatnya. Rasul ikhlas mengajarkan kita sebagai pengikutnya. Dan kita pun belajar bahwa cinta itu tak selalu bertemu raga. Cinta tak selalu bertegur sapa. Cukuplah kita yakin dan sandarkan cinta ini kepada sang Maha Cinta, maka ia akan bekerja sebagai katalis dalam memperbarui perasaan bahagia, bersimpul indah dalam lingkaran-lingkaran kebaikan yang bersatu padu. Suci nan penuh berkah. Karena cinta bukan hanya soal walimah. Tapi ia rahmat yang cakupannya tak berbatas wilayah.
Pada akhirnya izinkan saya mengutip puisi karya Sapardi Djoko Darmono yang berjudul Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta

mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

mencintai cakrawala
harus menebas jarak

mencintai-Mu

harus menjelma aku

Energi Pagi




Pagi selalu menyajikan inspirasi bagi sebagian besar orang yang mengerti. Bukan karena efek kopi yang memang selalu nikmat disajikan di pagi hari. Bukan juga karena sepotong roti yang tersaji dengan selai cokelat sebagai isi. Pagi menyuguhkan suasana yang kaya akan ide dan motivasi. Kumpulan semangat yang terbentuk dari mimpi indah semalam masih terasa di benak masing-masing individu. Aku pun begitu. Entah bagaimana denganmu. Apakah kamu bermimpi atau tidak, tidurmu nyenyak atau tidak, aku tak pernah tahu. Karena setiap orang memiliki masalah yang berbeda. Jadi mari kita selesaikan bersama di pagi ini.
Aku jadi teringat bagaimana perjuangan para pemuda dalam usahanya menghasut golongan tua untuk segera melakukan proklamasi kemerdekaan dengan cara yang cukup radikal. Dan itu terjadi di pagi hari 16 Agustus 1945. Sukarni dan kawan-kawan bersiaga dini hari mencari kesempatan untuk membawa paksa dua tokoh bangsa dari golongan tua yang pagi hari itu sedang menjalankan ibadah sahur untuk puasa esok hari. Rengasdengklok menjadi jadi saksi kesungguhan anak negeri dalam usahanya untuk mencapai harkat dan martabat menjadi bangsa dan negara mandiri. Negara yang merdeka. Bebas dari segala bentuk kolonialis bertopeng saudara tua dari Asia.
Perubahan yang terjadi di pagi hari itu bukan hanya mengubah jalannya takdir seorang anak manusia, tapi mengubah seluruh elemen bangsa mulai dari tingkatan terendah sampai kasta termulia menjadi merdeka di atas tanahnya sendiri. Dan itu bukan hanya karena pagi. Tapi juga karena campur tangan dari Ilahi.
Itu sejarah bangsaku, negaraku. Negaramu juga kawan, atau mungkin bangsamu memiliki jalan cerita yang berbeda. Adakah semua perubahan diawali di pagi hari. Tolong ceritakan padaku kapan pun kamu bersedia. Agar aku punya referensi lain bahwa di dunia ini, pagi memang menjadi saksi menentukan bagi semua manusia dalam menyambut takdir yang telah ditetapkan oleh yang Maha Pencipta.
Dan aku pun teringat kisah epik lain yang juga terjadi di pagi hari. Di saat peluh, keringat, darah yang belum kering benar dari jubah perang para sahabatnya. Di saat luka goresan di rahangnya belum sembuh benar, masih terdapat sisa darah akibat peperangan yang baru saja usai, manusia terpuji di langit dan bumi ini mengerahkan semua sahabatnya yang juga masih terlihat lelah dan payah di waktu subuh, sebelum matahari menampakkan cahayanya. Tujuannya satu. Mengejar musuh-musuh Allah yang telah merasa pongah akibat kemenangan di bukit Uhud beberapa saat yang lalu.
Dibawanya semua sahabat yang ikut dalam perang di Bukit Uhud. Bukit yang Menjadi saksi pelanggaran para pasukan pemanah yang tergoda ghanimah. Bukit yang menyaksikan kematian Mushab bin Umair dan Hamzah bin Abdul Muthalib dan para syuhada yang berjihad fisabilillah. Dilupakan sejenak memori kelam yang selalu diingatnya dalam setiap munajat pada Rabb nya. Dikuatkan mental para sahabat-sahabatnya untuk menghadang laju musuh yang jumawa untuk menyerang Madinah.
Dia tidak menghadapi musuh secara fisik. Karena dia memahami kondisi sahabatnya yang belum pulih dan serba lemah. Ditempatkannya seluruh pasukan di Hamra’ul Asad sekitar sepuluh mil dari Madinah. Jarak yang dirasa cukup untuk mengadakan pertarungan satu lawan satu untuk mencegah musuh melangkahkan kudanya barang setapak menuju kota yang dicintainya.
Dibakarlah api unggun besar sebelum matahari terbit benar. Agar terlihat riuh ramai pasukan yang dibawanya. Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia. Dibuatlah musuh gundah kala kilatan api yang berkobar terlihat begitu besar dari tempat mereka berpesta pora. Dimasukkanlah rasa takut dalam hati mereka bahwa keponakan Hamzah akan menuntut balas dengan pasukan yang jumlah yang luar biasa banyaknya.
Musuh gentar, pesta pun usai, rencana maju menyerbu Madinah biarlah diselesaikan lain waktu. Ada hal yang perlu untuk diselamatkan terlebih dahulu. Mereka pulang. Masih dengan cerita kegagahan di Uhud. Masih dengan kepongahan yang menjadi ciri khas. Meskipun dalam hati mereka was-was. Khawatir pasukan nabi mengejarnya untuk menuntut balas.
Pagi selalu punya energi yang dahsyat. Yang tidak dimiliki oleh siang, senja, atau malam. Pagi selalu memiliki awalan yang baik. Karenanya, kita harus mampu memanfaatkan setiap pagi yang kita miliki untuk menjadi titik landasan sebelum membawa harapan kita terbang mengangkasa. Landasan yang baik akan mempercepat akselerasi pesawat kita menuju tempat tertinggi. Tempat tertinggi mampu mendekatkan semua harapan yang kita miliki kepada Tuhan. Karena Dialah yang Maha Tinggi.
Kau tahu, pagiku tidak selalu cerah. Aku sadari itu. Tapi aku tahu, bahwa pagiku akan selalu sama. Selalu menyegarkan untuk menikmati hembusan udaranya. Selalu menginspirasi apalagi ditambah secangkir kopi, tanpa sianida tentunya. Dan pagiku akan selalu sama. Karena Allah selalu bersamaku ketika pagi tiba. Dia yang menyadarkan aku dari tidur di malam hari, yang mengembalikan energiku setelah seharian bekerja menguras tenaga dan emosi. Dan aku selalu tahu apa yang harus aku lakukan di pagi hari ini, esok dan seterusnya. Aku hanya perlu lebih banyak bersyukur atas semua nikmat yang diberikan-Nya hari ini.

Cerita Ibu di Februari

Pagi ini matahari masih malu menyapa. Hari kedua di bulan Februari. Sudah satu bulan berlalu sejak tahun ini berganti. Langit masih setia tegak berdiri menyaksikan rangkaian mimpi penduduk bumi di tahun ini. Mereka yang sudah menyiapkan serangkaian resolusi di awal tahun ini ada beberapa yang sudah mulai merampungkan masing-masing resolusinya itu. Awan masih setia hilir mudik di langit. Melindungi beberapa daerah yang perlu untuk diberikan rahmat berupa hujan. Tetesan air yang bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup di sekitarnya. Yang bukan hanya membasahi tanah, namun juga membasahi daun, batang, akar pohon yang tak pernah berhenti berzikir dengan caranya masing-masing.

Langit di hari kedua bulan Februari sudah cukup bersahabat. Namun aku masih hanya memperhatikannya dari kaca jendela kamar. Belum tergerak kaki ini untuk keluar sekedar menyapa mentari yang telah menaati aturan untuk mampir dan singgah menerangi kota dimana aku tinggal saat ini. Belum sempat pula aku menyapa angin yang berhembus dengan sejuknya di pagi hari. Belum terkontaminasi. Apalagi untuk sekedar menyapa burung-burung yang bersahutan tak berhenti sejak tadi. Berkeliaran lincah, terbang kesana kemari, berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain. Aku belum sempat menyapa mereka semua yang berhasil mewarnai pagi di hari kedua Februari ini menjadi begitu harmoni.

Aku masih menyederhanakan bentuk sapaan kebahagiaan ku kepada makhluk Allah yang paling berarti sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Dia seorang manusia, sama seperti ku. Bedanya, kasih sayang yang dimilikinya tak berbatas. Tak bertepi. Hingga aku betah untuk menunda sapaan ku kepada mentari, angin, dan burung-burung pagi hari ini. Dia adalah ibuku. Yang membangunkan ku ketika adzan subuh berkumandang. Ketika bapakku sedang sibuk dinas di luar kota, ibu menjadi sosok sentral di rumah. Bangun sebelum subuh, membangunkan aku dan adik-adikku untuk pergi ke mushola. Menyiapkan sarapan, bekal makanan untuk dibawa adikku sekolah pagi, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Aku menikmati saat-saat membantunya, meski tak seberapa. Meski hanya mengajaknya berbincang sebentar saat dia sedang menggoreng nasi kesukaan ku dan adik-adikku.

Hari kedua di bulan Februari ini sepertinya akan lebih banyak aku habiskan di rumah. Untuk berinteraksi dengan beberapa buku yang masih terbungkus plastik. Yang belum aku baca sama sekali. Sekalian memanfaatkan kesempatan mahal yang biasa kita lupakan bahwa aku masih diberikan kebahagiaan yang belum tentu dimiliki oleh  orang lain yaitu berinteraksi dan mengobrol langsung dengan ibu sendiri dalam waktu kerja seperti ini. Aku beruntung diberikan oleh Allah seorang ibu yang bersedia menjadi ibu rumah tangga. Menyediakan seluruh waktunya di rumah. Full time mother.

Dulu, ketika aku masih sekolah SD di Bekasi, aku paling dekat dengan ibu. Selain karena aku adalah anak pertama, ibu juga beberapa kali mengantar dan menjemputku sekolah. Jadi waktu yang aku habiskan bersama seorang ibu sangat berkesan, meski tidak berlangsung lama. Karena ketika aku naik kelas 4, Ibu bersama semua adik-adik harus mengikuti bapak pindah ke Palembang. Dan aku belum bisa pindah bersama karena harus mengurus paspor kepindahan dari Bekasi ke Palembang. Kamu tahu kan bahwa Bekasi terletak di planet lain, makanya sulit mengurus izin pindah tersebut. (jangan terlalu serius ya).

Waktu 2 tahun sekolah tanpa kasih sayang seorang ibu pernah aku rasakan. Dan itu ketika masih SD. Untungnya aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari nenek ku. Dia menggantikan peran ibu dengan pengalamannya mendidik anak-anaknya dimana salah satu dari mereka adalah bapakku. Dengan telaten penuh kesabaran, menghadapi kenakalan anak usia 9 tahun yang selalu ingin tahu, selalu ingin mencoba hal baru. Dijawabnya semua pertanyaan ku saat itu. Diajaknya berkeliling pasar, diajaknya pula aku ke pengajian ibu-ibu yang tak pernah aku tahu bagaimana akhir acaranya, karena aku selalu tertidur di pertengahan acara. Dan banyak hal lagi yang masih terekam jelas dalam ingatan ku bagaimana nenekku berusaha semaksimal mungkin memberikan kasih sayangnya padaku. Semoga Allah membalas kebaikannya di masa hidup, dan memberikannya tempat terbaik di Syurga.

Sebaik apapun perhatian yang orang lain berikan padamu, setulus apapun kasih sayang yang ditunjukkan nya padamu, itu semua tidak akan pernah menggantikan perhatian dan tulus nya kasih sayang yang pernah ditunjukkan seorang ibu.

Salah seorang kakak senior di tempat kerja pernah mengatakan bahwa jika orangtuanya kaya, maka anaknya akan ikut merasakannya, tapi jika anaknya yang kaya belum tentu orangtuanya bisa merasakannya juga. Ah kalau sudah seperti ini kadang aku suka berpikir, apa gunanya aku kerja tiap hari pergi pagi pulang malam, atau pergi malam pulang pagi namun tidak ada satupun yang bisa aku persembahkan kepada orangtuaku selain cerita lelah, dan wajah suntuk saja.

Tapi lagi-lagi aku masih bersyukur, karena Allah juga masih memberikan tempat kerja yang dekat tempat tinggal orangtua. Aku tidak harus merantau di beda kota atau beda pulau yang menyebabkan terpisahnya jarak antara aku dan orangtua. Aku masih bisa mencium tangan ibu dan bapak sebelum pergi kerja. Masih bisa melihat senyum mereka setiap hari secara langsung tanpa melalui video call atau skype.


Makanya pagi ini aku tak sempat menyapa mentari, menyapa angin, menyapa burung-burung. Karena mentari tak bisa menggantikan hangatnya kasih sayang ibu di pagi hari, angin tak mampu menggantikan kelembutan tangan ibu yang membangunkan tidur ku untuk sholat dan segera mandi, dan burung-burung tak akan bisa menyaingi keindahan suara ibu saat mengobrol bersama di ruang keluarga.

Rantai Kebaikan

Liburan kali ini memberikan kesan dan pelajaran seputar permasalahan kehidupan. Karena liburanku kali ini bukan melakukan destinasi tur keliling tempat wisata alam yang memiliki keindahan beraneka ragam. Aku sengaja menyempatkan diri berkeliling, menyusuri pasar, mampir di beberapa warung makan tanpa merek yang tak terdeteksi di google map, sembari mencuri dengar curhatan para penjual dengan langganan mereka. Setiap tempat persinggahan, memiliki problematika yang berbeda. Ada yang mengeluh mahalnya harga bahan baku, ada yang mengeluh sepinya pembeli, ada pula yang mengeluh seputar cuaca yang selalu datang dan pergi secara tiba-tiba. Cuaca yang datang dan pergi tiba-tiba aja dijadikan sebuah keluhan ya. Apalagi cinta. Tsaah..

Berkeliling dunia bisa membuatmu mengerti bahwa dunia ini kaya akan budaya, berkeliling alam bisa menambah keimanan atas keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa, berkeliling pasar, menyusuri pinggiran kota bisa membuatmu lebih banyak bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan padamu saat ini. Harus ada ibrah (pelajaran) yang kita dapatkan di balik setiap kejadian yang kita lalui. Karena seperti itulah cara manusia mendekatkan diri pada Ilahi yang memang mengatur seluruh alam semesta beserta isinya. Bahkan seorang Ibnu Qoyyim Al-Jauzi pernah mengatakan Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur hidupmu, pasti kamu akan meleleh karena cinta kepada Nya.

Kali ini aku mampir di kota Bekasi. Tempat kelahiranku. Tempat masa kecilku dihabiskan. Aku menghabiskan kurang lebih 11 tahun di kota ini. Itu jika dihitung sejak saat aku dilahirkan. Kota ini bukan termasuk ke dalam provinsi DKI Jakarta. Tapi kota ini masuk dalam wilayah pemerintahan provinsi yang saat ini dipimpin oleh Ahmad Heryawan. Allah hanya mengizinkanku menghabiskan waktu di sini sampai sekolah dasar. Karena setelah lulus SD, aku ditakdirkan untuk mengukir cerita di pinggiran kota yang memiliki jembatan Ampera.

Bekasi sudah banyak berubah sejak aku pergi. Bangunannya makin tinggi, kendaraan makin ramai. Aura Jakarta mulai menular ke sini. Bekasi bisa dibilang Jakarta kw 2. Banyak penduduk Bekasi yang bekerja di Jakarta. Karena memang lokasi di sini cukup dekat dengan Jakarta. Setelah subuh, banyak yang kemudian bersiap menyongsong mentari demi segenggam asa yang sudah mereka kumpulkan untuk keluarga. Adalah hal yang lazim, jika kamu melihat jam 6 pagi, lalu lintas mulai padat. Ternyata kota Musi belum sebanding dengan Bekasi. Soal macet, sepertinya Palembang masih harus banyak bersyukur soal itu.

Kehidupan masyarakat urban memang keras. Terkesan individu namun sebenarnya ada kepedulian di sana. Hanya saja situasi yang membuat mereka membatasi tingkat kepedulian tersebut. Menjadi urban, tidak selalu membuatmu apatis terhadap kondisi sekitar. Namun untuk menolong, membantu, atau apapun itu namanya yang sifatnya meluangkan waktu demi orang lain sudah jarang ditemukan di kondisi kehidupan masyarakat urban yang memiliki waktu terbatas. Terbatas karena macet, terbatas karena target, terbatas karena duit. Ya selalu saja seperti itu. Pemikiran oportunis sudah hampir menguasai masyarakat urban. Selalu ada pertimbangan antara waktu yang terbuang dengan uang yang dihasilkan. Jika tidak menghasilkan lebih banyak, lebih besar, maka tinggalkan.

Ketika hidup hanya memikirkan untung rugi, maka tak akan cukup bekal ongkos yang aku bawa untuk liburan kali ini. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa ternyata tidak selamanya nilai-nilai kebaikan itu hilang di tengah kerasnya tuntutan kehidupan. Bukan hanya di Bekasi. Di Bandung, di Garut pun juga seperti itu. Ada saja bantuan yang tiba-tiba Allah berikan tanpa pernah aku perkirakan sebelumnya. Seperti misalnya saja saat ini. Di Bekasi, aku masih mempunyai teman-teman masa kecil yang Alhamdulillah masih peduli. Bukan hanya saat ini saja. Sudah beberapa kali aku kembali ke kota ini. Dan selalu ada saja teman yang memberikan pertolongannya tanpa henti. Dan hebatnya lagi, pertolongan itu diberikan oleh orang yang berbeda-beda.


Tak usah lah aku menceritakan detil bantuan yang diberikannya dalam bentuk apa. Karena tulisan ini akan menjadi sangat panjang jika aku ceritakan semuanya. Cukuplah kamu tahu, bahwa di tengah kehidupan urban, masih ada rantai kebaikan. Masih ada kepedulian. Di tengah kesulitan, masih ada rasa syukur dan keinginan untuk memberikan bantuan. Ah hidup ini indah kawan. Tak perlu jauh kamu mengembara, browsing mencari tempat wisata, cukuplah perhatikan sekelilingmu, ketika ada rantai kebaikan di sana, berarti Allah sedang memberikan kesempatan kepadamu untuk meneruskan rantai kebaikan itu di tempat dan waktu yang berbeda.

Harapan Dalam Bahasa PHP

Matahari belum nampak benar. Rotasi bumi masih terus berjalan sebagaimana mestinya. Wilayah Indonesia bagian barat masih menanti giliran untuk menghadapkan wilayahnya langsung ke arah matahari. Jadilah saat ini kusebut pagi. Karena waktu ini adalah waktu perjumpaan wilayah yang aku singgahi dengan matahari. Kita sama tahu, pagi adalah waktu yang selalu menjadi awal untuk memulai aktivitas. Karena lazimnya orang mulai bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya adalah di waktu pagi. Sebagaimana telah di jelaskan oleh Allah di surah An Naba’ ayat 10-11 “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk siang mencari penghidupan.”.

Pagi selalu membawa harapan baru. Harapan untuk sebuah perubahan yang baik. Kehidupan mengajarkanku sebuah hal baru tentang harapan. Karena harapan adalah sebuah konsep yang tidak bisa secara tiba-tiba hadir dalam kehidupan kita. Harapan bukanlah sebuah wahyu yang kemudian menyelusup masuk dalam sanubari, dikirimkan ke otak, kemudian menjadi sugesti yang akan dikerjakan. Konsep harapan seperti itu hanyalah bertahan sepintas lalu. Tak akan bertahan lama. Harapan adalah doa yang ingin disampaikan kepada Sang Pencipta dengan penuh keinginan dan tekad. Tekad inilah yang kemudian aku terjemahkan menjadi sebuah konsep yang diperlukan untuk mempertegas satu harapan tersebut.

Sudah tiga hari aku berada di kota kembang. Kota penuh kenangan yang pernah dibumihanguskan oleh Moh Toha ini memberikan sebuah pelajaran mengenai konsep harapan. Di kota ini perjalanan menggapai harapan itu benar-benar terlihat nyata. Setiap pinggiran jalan kota menyajikan harapan yang berbeda.

Buat yang hobi main musik, kota ini merupakan gudang yang melahirkan musisi terkenal di belantara musik Indonesia. Kemampuan musisi kota ini tak perlu dipertanyakan. Karena darah seni seolah mengalir di setiap penduduk kota yang diakui paling bahagia di Indonesia ini. Buat yang hobi foto, kota ini juga menyajikan beberapa lokasi yang bagus untuk dijadikan sebagai objek foto. Belum lagi beberapa taman yang baru dibuat oleh pemimpin daerahnya yang memang seorang arsitek ahli tata kota. Dan banyak lagi hobi yang bisa disalurkan di sini. Karena kota ini menawarkan harapan pada setiap masyarakatnya untuk menjadi lebih kreatif dalam mengoptimalisasikan hobi. Lebih bagus lagi apabila hobi tersebut menghasilkan profit. Bukankah pekerjaan yang paling enak adalah mengerjakan hobi yang dibayar.

Secara pribadi, saya sendiri memiliki konsep bahwa harapan itu terletak di antara kekuatan dan kesabaran. Berhubung saya kuliah di fakultas komputer, akrab dengan beberapa bahasa  pemrograman, maka konsep tadi saya terjemahkan dalam bahasa PHP (Power, Hope, Patient). Mari kita bahas sedikit mengenai alasan kenapa ketiga konsep ini saya jadikan pilihan dari sekian banyak pilihan kata kerja yang lain.

1.       Power
Power atau bisa kita lihat hasil translatenya di google translator adalah kekuatan. Kekuatan akan melahirkan kepercayaan diri bagi yang memilikinya. Kita tahu bersama bahwa Avenger adalah film Box Office super hero ciptaan Marvel yang cukup laris dan terkenal di masyarakat. Kenapa itu bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena masing-masing anggota Avenger memiliki kekuatan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Penonton sudah cukup kagum dengan Iron Man dengan baju besi nya, Thor dengan palu saktinya, Captain America dengan perisainya, Hulk dengan kekuatan raksasanya, dan semua personil Avenger lain yang memiliki kekuatan berbeda. Belum lagi kalau kita bahas film X-Men yang terdiri dari mutan yang juga memiliki kekuatan super yang berbeda pula. Maka tulisan ini hanya akan menjadi review sebuah film apabila membahas kekuatan mereka satu persatu. Hal yang perlu digarisbawahi dari contoh film yang saya sebutkan tadi adalah, bagaimana kita selaku manusia bisa mengoptimalkan kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan sebuah harapan yang akan kita capai. Karena itulah kekuatan ini saya letakkan di bagian awal dari ketiga hal tersebut.

Kita harus belajar bagaimana para sahabat Rasul yang memiliki harapan untuk masuk surga dengan kekuatan yang mereka miliki. Seorang Bilal bin Ra’bah yang merupakan bekas budak yang merdeka tidak memiliki kekuatan yang cukup secara finansial, namun hal itu tidak menyebabkannya berhenti berharap surga. Dia menyedekahkan suaranya untuk mengumandangkan azan selama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Berbeda dengan Abdurrahman bin Auf yang memang terkenal cerdas dalam berniaga, sehingga memiliki kekuatan finansial yang luar biasa banyaknya. Dia berharap surga dengan menyedekahkan sedemikian banyak hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Satu harapan yang sama, beda cara. Dan itu semua hanya sekedar menyesuaikan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Bukankah Allah juga lebih mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah?

2.       Hope
Hope adalah Harapan. Harapan ada karena setiap manusia percaya bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mewujudkannya. Keberhasilan satu harapan bisa dinilai langsung dari proses yang dijalankan untuk mewujudkan tersebut. Karena proses tidak akan mengkhianati hasil akhir.

Sebuah harapan biasanya lahir dari mimpi besar yang ingin dicapai. Tentunya berbeda antara harapan dan mimpi. Mimpi adalah satu angan yang tercipta saat kita tidak sadar. Sedangkan harapan adalah satu angan yang kita inginkan secara sadar. Kemudian diperkuat dengan doa, dioptimalkan dengan amal atau kerja. Maka berikhtiar dan berharap akan menjadi pasangan penting yang perlu saling melengkapi satu sama lain.

Pepatah bijak mengatakan bahwa manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari tanpa makan,   3 hari tanpa minum, 8 menit tanpa udara, tapi hanya bisa bertahan hidup 1 detik tanpa harapan. Harapan mampu menjaga semangat hidup manusia. Karena harapan mampu membangkitkan setiap potensi tersembunyi dalam diri manusia untuk tetap menjalankan kehidupannya.

Pada hakikatnya kita harus mengetahui dengan benar mengenai ke mana harapan ini kita arahkan. Setiap manusia memiliki harapan yang berbeda-beda. Namun harapan yang terbaik adalah ketika kita mengarahkan harapan kita kepada yang Maha Mengetahui isi hati. Setiap kesulitan dan kemudahan yang kita hadapi, adalah berasal dari Nya, maka selayaknya kita kembalikan semua harapan kita pada Nya.

3.  Patient
Patient yang saya maksud di sini adalah Sabar. Bukan pasien yang berada di rumah sakit. Sabar menjadi kunci dari keberhasilan semua konsep yang akan dijalankan. Sabar diibaratkan salah satu dari dua sisi mata uang. Di sisi yang lainnya adalah syukur. Seorang muslim yang baik harus memiliki kedua sisi ini. Karena kedua sisi ini akan menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Sebesar apapun masalah yang kita hadapi tidak akan terlalu membebani diri apabila kita bersabar. Sebanyak apapun nikmat yang kita peroleh tidak akan membuat kita besar kepala apabila kita bersyukur.

Harapan adalah bibit, kesabaran adalah pupuknya. Sebuah bibit yang baik akan tumbuh dengan baik apabila mendapat pupuk yang baik pula. Pupuk inilah yang akan memastikan proses pertumbuhan bibit berjalan secara benar. Sesuai proses. Karena nanti pada saatnya, bibir  kita akan tersenyum, hati kita akan merasa bangga karena bisa memetik buah dari bibit harapan yang telah dipupuk, ditanam sesuai proses yang begitu panjang.

Para nabi telah mengajarkan kepada kita bagaimana proses kesabaran itu. Kita juga mafhum bila ada beberapa di antara mereka mendapatkan gelar ulul azmi. Gelar tersebut didapatkan dari sikap kesabaran yang luar biasa yang ditunjukkan oleh para nabi dalam menjalankan misi dakwahnya.  Karena cobaan yang mereka alami jauh lebih keras. Jauh lebih sulit daripada apa yang kita alami saat ini. Dan dengan berbekal kesabaran yang begitu gigih mereka tetap memasang harapan yang tinggi untuk menyebarkan dakwahnya menyeru kepada ajaran ilahiah sesuai risalah yang diberikan pada mereka.

Kemudian kita pun diingatkan kembali bahwa dalam alQuran, kata sabar memiliki jumlah kata yang sama dengan kerja keras yaitu 114 kali. Dan itu semua membuktikan bahwa dalam tiap kesabaran harus diiringi dengan sebuah kerja keras. Karena sabar tanpa diiringi kerja keras adalah sebuah kegiatan berpangku tangan. Seorang karyawan tidak akan mendapat jabatan tinggi di perusahaannya apabila dia hanya sabar tanpa melakukan kerja keras dan prestasi. Seorang pedagang tidak akan mendapatkan untung besar apabila hanya sabar menanti pembeli jika tidak diiringi kerja keras untuk promosi dan inovasi. Semua kesabaran akan mendapatkan kesuksesan jika diiringi dengan sebuah kerja keras.

Apabila kesuksesan adalah sebuah rumah besar, megah dan indah. Dengan atap tinggi menjulang, dinding berhiaskan ornamen cantik. Jendelanya lebar, dipermanis dengan tanaman hias di kanan kirinya. Lantainya batu marmer dan pualam yang dikombinasikan dengan corak dan warna yang serasi di tiap sisi. Kunci yang dapat membuka pintu berhias permata, penuh ukiran di setiap sudutnya itu adalah kesabaran. Kesabaran yang akan membuat kita bisa menikmati rumah indah tersebut secara penuh. Karena kesabaran itu sudah berpengalaman menjadi saksi di berbagai kesuksesan dari sebuah harapan yang pernah ada di dunia ini.

Banyak perubahan yang terjadi di dunia ini, dan itu semua dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keinginan untuk mewujudkan harapannya masing-masing.
Orang kuat percaya bahwa perubahan bisa terjadi karena kekuatannya
Orang pintar percaya bahwa perubahan bisa terjadi karena ide-idenya
Orang beriman percaya bahwa perubahan bisa terjadi karena Tuhan mengabulkan semua harapannya.


Jadi pertanyaannya sekarang, sudahkah kita memiliki konsep seputar harapan kita di pagi ini?