Bercerita tentang kesederhanaan hidup

Selasa, 07 Juni 2016

Endurance

22.46 Posted by Hamzah Ramadhan No comments
Malam ini sudah memasuki hari ketiga di bulan Ramadhan. Anak-anak masih semangat berlarian menuju masjid. Ikut sholat Isya, lanjut tarawih. Waktu bermain mereka bertambah seiring adanya even tahunan rutin di tiap masjid. Mereka bisa bercengkrama lebih lama dengan anak-anak lain yang mungkin tetangga dekat. Bercanda ria sambil main kucing-kucingan dengan petugas masjid yang rajin menegur mereka ketika ribut di dalam masjid. Pulangnya anak-anak itu masih masih memiliki semangat yang sama. Dengan peci yang sudah tak tahu lagi rimbanya karena terselip di antara saku celana, dengan sarung terikat dileher dibentuk rompi ala tim swat korban film superhero. Esok akan lebih seru, lebih mengasyikkan, pikir mereka. Karena mereka akan bertemu kawan sebayanya. Bercanda ria. Kadang sampai lupa diri bermain petasan banting yang ternyata masih dijual di pasaran.
Langit di Bulan Ramadhan masih bersahabat. Hujan masih belum turun. Malam ini, bintang masih bertaburan menghiasi gelapnya malam. Menjadi saksi para jamaah yang begitu semangat pergi menuju masjid. Setiap langkah menuju masjid, setiap kerlipan pula cahaya bintang itu berpendar merespon aktivitas mulia yang insyaAllah tercatat berkali-kali lipat pahalanya. Langit diam saja. Menikmati taburan cahaya, sambil memastikan bahwa tak ada air yang turun malam ini.
Aku duduk di salah satu sudut masjid. Mendengarkan ceramah yang penuh canda namun tersirat makna. Ramadhan ini adalah sebuah fenomena. Fenomena yang mengubah suasana islami di setiap sudut kota. Fenomena yang mengubah susunan shaf di masjid menumpuk penuh sampai ke teras luar. Fenomena yang menghadirkan banyak majelis ilmu di setiap waktu.
Penceramah membawakan materi dengan semangat, jamaah merespon dengan antusias, sesekali disambut riuh tawa karena candaan yang sifatnya membangun bukan mencari kompor gas atau suasana pecah dengan tawa dan riuh tepuk tangan. Ini majelis ilmu, bukan panggung stand up komedian.
Alur ceramah mulai tak lagi masuk telinga. Pikiranku mengembara. Mataku tertuju pada jamaah yang mengenakan kaos bola Leicester City, dengan nomor punggung 9 bertuliskan nama Vardy. Si Vardy memang tidak disebut sama sekali oleh penceramah. Tapi entah bagaimana caranya dia bisa mengelilingi isi kepala yang sedari tadi berusaha mencerna maksud dari isi ceramah ustadz yang berjanggut panjang, dengan peci hitam, bergamis putih dengan sorban kotak hitam melilit di lehernya. Dan sudah hampir 5 menit dia berdiri di depan, tapi aku tak lagi fokus padanya.
Aku teringat pernah baca sejarah singkat si Vardy yang kini memenuhi isi kepala. Sebelum dia membawa klubnya juara Liga Inggris, dia bermain di klub amatir di tanah Britania. Sambil bermain sepakbola, ia menjadi buruh pabrik di siang hari. Sampai pada akhirnya klub yang saat ini dibawanya menjuarai Liga Inggris, membelinya ketika masih bermain di divisi dua. Butuh waktu selama tiga tahun hingga seorang Vardy bisa membantu tim nya juara. Vardy memiliki daya tahan yang tinggi. Endurance nya cukup stabil hingga ia bisa menularkan pengaruhnya kepada rekan setim yang membantunya meraih gelar pertama liga paling bergengsi di seantero Inggris. 
Vardy akhirnya dipanggil untuk membela timnas Inggris untuk berlaga di Euro 2016. Karirnya perlahan meningkat, endurance nya membuahkan hasil meski di usia senja bagi ukuran pesepak bola (29 tahun). Ketika Vardy mampu mempertahankan endurance seperti apa yang ditunjukkannya pada pelatih gaek asal Italia, Ranierri. Bukan hal mustahil Inggris bisa meraih trofi Euro yang belum pernah sekalipun mereka raih.
* * *
Endurance adalah nilai positif yang mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Nabi dan Rasul memiliki tingkat endurance yang berbeda dalam berdakwah. Untuk yang terlama hingga mendapat julukan Bapak Dakwah adalah Nabi Nuh as. Dengan endurance yang cukup lama, nampaknya Allah belum memperkenankan Nabi Nuh as memiliki pengikut yang banyak sesuai dengan waktu yang dihabiskannya. Karena bicara soal endurance (daya tahan) ini bukan hanya berbicara soal waktu. Kita sedang berbicara soal kesabaran dan kesempatan.
Ramadhan adalah bulan dimana endurance kita sebagai orang beriman diuji. Semua mendapatkan keadilan waktu. Mereka mendapatkan waktu yang sama. Namun tidak semua memiliki dua hal tadi secara bersamaan. Ada yang memiliki tingkat kesabaran yang baik, namun belum diberikan kesempatan yang maksimal untuk beribadah. Ada yang diberikan kesempatan yang lapang, namun tidak diberikan kesabaran yang cukup untuk menggunakan kesempatan tersebut. Nabi Nuh as diberikan kesabaran yang cukup, namun ternyata selama waktu hidupnya, belum diberikan kesempatan yang cukup oleh Allah sampai air yang akhirnya mengenggelamkan kesempatan tersebut.
* * *
Pekan pertama di bulan Ramadhan tingkat endurance masyarakat untuk sholat berjamaah di masjid masih stabil. Menjelang minggu kedua, tingkat endurance masyarakat mulai goyang. Barisan shaf mulai longgar. Pekan ketiga tingkat endurance makin kendur. Ujian makin berat karena godaan diskon di setiap pusat perbelanjaan. Belum lagi even buka bersama yang makin ramai di sosial media. Hingga di pekan terakhir Ramadhan, tingkat endurance masyarakat hanya menyisakan beberapa orang saja. Ada yang sudah persiapan mudik ke kampung halamannya. Tapi ada juga yang tetap stabil, bahkan makin baik daya tahannya karena ditunjang dengan itikaf dan amal-amal yang konsisten dijalankan selama hidupnya.
Wajar apabila syurga itu mahal harganya. Lebih mahal dari trofi Liga Inggris atau Euro yang diperebutkan Vardy dan rekan setim nya. Lebih berkilau nilainya. Lebih istimewa dibandingkan dengan seisi dunia. Karena memang untuk menggapainya butuh daya tahan (endurance) yang lebih menguras tenaga. Berpeluh keringat. Menguras air mata, harta. Bahkan tidak jarang sampai harus mengorbankan darah dan nyawa untuk mempertahankan daya tahan keimanan sebagai seorang mukmin sejati.
* * * 
Aku terbangun. Rupanya bilal sudah bersahutan menyeru untuk sholat witir. Aku belajar arti daya tahan dalam mimpi. Aku juga harus menjaga daya tahan mataku yang sudah beberapa watt ini untuk melanjutkan tiga rakaat yang menjadi penutup rangkaian ibadahku di masjid ini. Ya Allah kuatkan daya tahanku sampai akhir Ramadhan.

Palembang 3 Ramadhan 1437 H
Reaksi:

0 komentar: